"Aku dan Bintang"
Suatu pagi yang cerah aku masuk di sekolah yang baru. Aku siswa SMA yang baru saja menjalani kehidupan yang baru di Manado. Aku pindah kesini karena aku dulu terkenal sangat nakal di sekolahku yang lama, tetapi aku mulai sadar saat Bintang jatuh menghampiriku
Saat lonceng berbunyi, aku masuk ke kelas yang penuh dengan orang-orang dungu, culun, aneh dan masih banyak lagi. Aku tak suka keadaan kelas seperti itu, hingga aku keluar kelas dan mencari tempat untuk merokok. Terapi seketika ada gadis menhampiriku dan mencabut rokok dari tanganku dan berkata, "ini tidak bagus untuk kesehatanmu!" tetapi aku tidak memperdulikan apa yang ia katakan dan aku pergi.
Lalu saat aku pulang sekolah, ayahku menanyakan begaimana kabarku di sekolah. Tetapi aku menghiraukannya. Aku merasa sangat depresi karena hidupku terasa berakhir setelah ibu pergi meninggalkan ayah. Ibu dulu selalu hadir disampingku, sedangkan ayah sekarang hanya sibuk dengan calon istri barunya dan tidak memperdulikan aku.
Keesokan harinya aku melakukan hal yang sama disekolah, tetapi lagi dan lagi gadis itu datang kembali dan merusak rokokku. "Mau kamu apa?!" tanyaku. "Aku sudah bilang,kalau rokok itu tidak bagus buat kamu!" jawabnya sambil membentak. "Lalu apa urusanmu dengan hidupku? Tidak ada orang yang memperdulikan diriku!" kataku. Lalu perdebatan itu membuat kepala sekolah mendapatiku terlihat dengan rokok. Disuruhnya aku dan gadis itu masuk ke ruangan kepala sekolah. Kepala sekolah meminta penjelasan tentang apa yang terjadi, tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kemudian gadis itu pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan aku hanya bisa terdiam. Setelah itu kepala sekolah menyuruh gadis itu untuk mengawasiku selama satu bulan di sekolah. Aku sangat kesal dengan keputusan tersebut. Setelah keluar ruangan itu, ia selalu mengawasiku, mengocehiku, dan terus menasihatiku hingga membuat telingaku panas mendengarnya. Lalu lonceng berbunyi, aku tahu ini saat yang tepat untuk meninggalkannya. Ketika aku ingin ke kelasku, dia menahan tanganku," Nama kamu siapa? Kita belum sempat kenalan." tanyanya sambil tersenyum. Lalu dengan muka cuek aku menjawab," Namaku Vidi, namamu siapa?" tanyaku. " Baiklah Vidi, aku Dara salam kenal" jawabnya. Lalu dengan cuek aku kembali beranjak ke kelas.
Ketika pulang sekolah, kami kembali bertemu dan ia tetap mengawasiku. "ini sudah pulang sekolah, mendingan kamu pulang dan tidak usah ikut-ikut terus!" kataku pada Dara. " Aku akan pulang kalau kamu tidak merokok lagi, janji?" aku menjawab," iya-iyaa aku janji." sambil membuat janji kelingking. Dan akhirnya kita pulang ke rumah masing-masing
Pada waktu aku sampai dirumah, seperti biasa ayah masih sibuk dengan calon istri barunya. Aku langsung masuk ke kamarku dan tidur. Ketika magrib setelah aku selesai mandi, suara ponselku berbunyi dan tertera nomor yang tidak aku kenal. Panggilan yang pertama aku masih menghiraukannya,lalu untuk yang kebeberapa kalinya aku merasa terganggu dan mengangkatnya. Aku mencari tahu suara orang yang menelponku, lalu seketika aku mendengar suara gadis yang mengawasiku disekolah! "Apa maumu menelponku?" dengan suara bentakan aku bertanya. Ia menjawab," kenapa marah-marah terus, nanti cepat tua kamu." jawabnya sambil tertawa. Lalu aku hanya diam. Dan aku bertanya kembali," dari siapa kamu mendapat nomor teleponku?" Ia menjawab," dari kepala sekolah, ia bilang aku harus awasi kamu terus." dan aku hanya terdiam lagi. "Kamu sudah tidak merokok lagikan?" tanyanya. Dan aku menjawab," iya sudah tidak lagi." Dan akhirnya kami mengobrol ditelepon hingga tanpa aku sadari aku sudah bercanda tawa dengannya. Lalu kami menutup telepon karena sudah larut malam. Saat selesai menelpon aku merasa seperti senang dan hati seperti berbunga-bunga. Tetapi aku tidak perduli dengan hal itu.
Keesokan paginya disekolah aku terkaget karena akan ujian dan aku tidak belajar. Pada saat ujian dihadapanku, aku seperti telah jatuh ke dalam lubang yang gelap. Aku hanya bisa menulis Nama dan Tanggal saja. Setelah selesai diperiksa, aku mendapat nilai nol! Lalu aku dipanggil lagi untuk menghadap kepala sekolah. Di sana aku dimarahi, diocehi, tetapi aku tidak perduli dengan apa yang ia lakukan.
Tak lama kemudian, masuklah gadis itu! Aku terkejut melihatnya sekaligus heran dan bertanya-tanya apa yang ia lakukan disini. Kepala sekolah juga marahi dia dan bertanya," Mengapa Vidi mendapati nilai seperti ini?" tanyanya sambil sambil membentak dan menunjukan hasil ujianku. Kepala sekolah tetap meminta Dara untuk mengawasiku, lalu dara berkata," maaf pak, tetapi Vidi tidak mau selalu diawasi." lalu kepala sekolah kembali memarahiku dan tetap menyuruh Dara untuk mengawasiku terutama dalam belajar!
Setelah keluar ruangan semakin kesallah diriku lalu Dara menarik tanganku lalu kita beranjak ke kantin. Di kantin Dara mengeluarkan buku-buku, lalu aku heran dan bertanya," apa ini? kenapa keluarin buku-buku ini?" kemudian Dara menjawab," Mulai sekarang kita harus bekerjasama, supaya kamu bisa lulus setiap ujian." jawabnya sambil tersenyum. Dan aku hanya cuek dan tidak memperdulikannya, Lalu di kantin dia mengajariku pelajaran-pelajaran yang membosankan seperti matematika, fisika, biologi, dll. Lalu aku berdiri dan bermaksud untuk pergi, tetapi dia mengejarku dan berkata," yah sudah nanti kita lanjut lagi besok." katanya sambil tertawa. "Apa? Lanjut besok? dengan belajar satu hari saja sudah malas apalagi berhari-hari!" dalam hati aku terkejut. Lalu ia tersenyum padaku lalu menarikku ke suatu tempat. Ia mengajakku jalan-jalan dan kita lewati hari itu dengan wajah tersenyum.
Pada saat malam hari ponselku berbunyi lagi, dan sudah kuduga Dara akan menelponku. Kuangkat telepon itu dan benar ia yang menelponku. kita menelpon sepanjang malam, berbagi cerita, tertawa-tertawa,dll. Sampai akhirnya menutup telepon. Setelah itu hatiku berdetak sangat kencang seperti kuda yang berlari. Dalam hatiku aku bertanya," Apa aku jatuh cinta pada Dara?" Aku tak bisa tertidur karena terus memikirkan pertanyaan itu yang terus membayang-bayangiku.
Pada keesokan harinya, semua berjalan lancar. Aku dan Dara semakin lama, semakin akrab, lalu aku juga sudah bisa lulus semua ujian mata pelajaran, semua itu karena bantuan Dara. Aku merasa sangat bahagia bersamanya berada di sampingku. Terasa nyaman seperti tidur diatas kasur yang empuk Akhirnya aku sadar ternyata aku sayang kepadanya, aku cinta padanya, tetapi aku takut jika aku bukan orang yang tepat untuknya.
Hari-hari kita lewati dengan sangat gembira, disekolahku, diluar, ditaman, dimana saja tempat yang aku lewati bersamanya. Aku tak ingin kehilangan dia, karena hanya dia yang bisa menggantikan posisi ibuku. Pada sabtu malamnya seperti biasa kita menelpon hingga larut. Ketika selesai menelpon, ku tengok ke jendela luar dan ku lihat ada sebuah Bintang jatuh, lalu aku membuat permohonan dan berkata," Semoga Dara bisa menjadi bintang di hatiku dan menyinari hari-hariku."
Setelah satu bulan kita lewati bersama, aku yakin sudah saatnya aku menyatakan cintaku yang besar ini. Kubawa dia ke suatu restoran dengan atap terbuka dan pemandangan bintang malam diatasnya, dan kita makan malam berdua. Waktu ia datang kulihat dia sangat cantik bagaikan malaikat yang turun ke bumi, aku sangat terkejut dan berkata," kamu cantik malam ini." sambil tersenyum. Ia tertawa-tertawa kecil dan aku anggap itu awal yang baik. Lalu kita makan malam dengan penuh keindahan sampai pada waktunya aku bertanya pada Dara," Dara boleh bantu aku?" Dara menjawab," Boleh, bantuan apa?" aku berkata," aku menyukai seorang gadis, tetapi aku takut aku tidak pantas untuknya." Dara menjawab," Tidak pantas kenapa?" aku menjawab," karena aku anak yang nakal." tersenyumlah Dara dan menjawab sambil tertawa," kamu sudah berubah Vidi, dulu memang kamu nakal waktu kita pertama bertemu, tetapi sekarang kamu sudah berubah." lalu aku berkata,"baiklah kalau begitu, tugas kamu mudah hanya bilang Iya atau Tidak." Dara menjawab," Gampang, lanjutkan." dan akhirnya aku berani mengatakannya," Maukah kau menjadi pasanganku pada malam ini dan hari-hari selanjutnya??" kutanya pada Dara. Aku gugup menunggu jawabannya. Lalu setelah beberapa saat Dara menjawab," Iya! aku mau Vidi." sambil mengeluarkan air mata bahagia. Dan kita berdua merasa Sangat senang dan bahagia. Untuk menutup malam itu, kuajak dia unuk berdansa sambil memelukku," Terima kasih Dara buat semuanya." kataku sambil memeluknya dengan erat, lalu Dara tersenyum dan memelukku lebih erat. Dan pada akhirnya ada Bintang yang menyinariku, yaitu dia Dara kekasihku yang kucintai Selama-lamanya!
Dikarang oleh,
Fernando Y. Setiono
Tomohon, 22 Februari 2017
SMA Lokon St. Nikolaus